RESUME
TEKNOLOGI DAN TRANSFORMASI PEKERJAAN BERITA, KONDISI TENAGA KERJA
BERUBAH DALAM JURNALISME ONLINE
Beberapa penelitian sepuluh tahun terakhir di negara bagian barat
menyatakan seperlima dari populasi jurnalis profesional telah meningkatkan
risiko kelelahan emosional, sinisme, dan berkurangnya prestasi pribadi di
tempat kerja, lebih banyak stres dan lebih sedikit kepuasan kerja penyebab nya adalah
kombinasi tekanan kerja yang tinggi dengan faktor-faktor seperti keseimbangan
kerja-hidup yang miring, kurangnya umpan balik dari atasan, dan kurangnya
variasi dalam pekerjaan, peningkatan
tugas dan tanggung jawab, ditambah dengan pengurangan sumber daya, mempengaruhi
otonomi profesional wartawan.
Oleh karena itu perlu memperhatikan dampak ekonomi pada tenaga
kerja jurnalistik, terutama karena perkembangan teknologi di ruang berita yang
terus mengarah pada perubahan dalam melakukan
lebih banyak konten dengan lebih sedikit staf, lebih banyak (dan lebih beragam)
tugas dalam waktu yang lebih singkat, lebih fleksibilitas untuk upah yang lebih
rendah, dan sebagainya. kondisi kerja jurnalis berubah dalam konteks
digitalisasi dan komersialisasi media yang sedang berlangsung dengan peran
teknologi, dan lebih khusus wacana digital, dalam transformasi pekerjaan di masyarakat
kapitalis baru.
Kapitalisme Baru, Teknologi, dan Jurnalisme
Dampak ekonomi jurnalisme berkaitan erat dengan tren pasar, karena
tenaga kerja jurnalistik dapat mengalami perubahan yang lebih luas dalam
organisasi kerja di industri kreatif. Kerja media kini mengalami evolusi
dengan mengaburnya batas antara waktu luang atau kehidupan profesional dan
pribadi, tetapi juga di dalam organisasi media: antara manajemen dan karyawan
dan antara produsen dan orang-orang yang sebelumnya dikenal sebagai audiens
yang mengarah pada kapitalisme baru.
Elemen sentral dalam "kapitalisme baru" adalah
individualisasi tenaga kerja, tuntutan dan tanggung jawab bergeser dari majikan
atau perusahaan ke karyawan individu, kontrol manajerial atas tenaga kerja pun
mulai tumbuh. Dalam lingkungan ini di mana individu semakin dinilai pada
atribut pribadi mereka seperti fleksibilitas, kewirausahaan, dan kemampuan
beradaptasi.
Peran teknologi sangat berhubungan erat dengan kapitalisme baru.
Teknologi digital baru sering dianggap sebagai pendorong utama di balik
transisi ekonomi dan organisasi. Teknologi sebagai faktor pendorong perubahan memperlihatkan
efek langsung dan tidak langsung pada
penerapan teknologi baru di ruang berita terlihat dan nyata dari efek perkembangan
lain seperti pada komersialisasi.
Transformasi Pekerjaan Berita
Industri media mengalami tamparan keras oleh resesi ekonomi global
beberapa tahun terakhir dengan adanya jumlah besar kehilangan pekerjaan. Hal
tersebut terjadi karena adanya perubahan organisasi struktural di media,
didorong oleh logika pasar yang bertujuan untuk mengurangi biaya sambil
meningkatkan produktivitas dan memaksimalkan keuntungan.
Terdapat empat trend yang teridentifikasi, yaitu pertama pertumbuhan
lapangan kerja yang tidak dalam standar dalam profesi jurnalisme, kedua
peningkatan permintaan fleksibilitas fungsional dan multiskilling, ketiga wartawan
menghadapi tantangan dari beban kerja yang terus meningkat, keempat sumber
daya untuk kerja lapangan cenderung mengering.
a.
pekerjaan
tak lazim
pekerjaan yang
tidak lazim mengacu pada jenis pekerjaan yang tidak permanen dan penuh waktu
1.
pekerja
lepas / pekerja portofolio :
pangsa pekerja
lepas telah meningkat secara signifikan,
pekerjaan ini merupakan pekerjaan utama mereka dikarena dipaksa oleh
kebutuhan, dan mereka dapat memiliki control lebih besar untuk memilih status pekerjaan ini
2.
Kontrak
sementara dan pekerjaan paruh waktu
jurnalis
semakin bergerak masuk dan keluar dari proyek dan pengaturan tenaga kerja
sementara.
b.
Fleksibilitas
fungsional dan multiskilling
Merupakan
perubahan kondisi kerja dalam jurnalisme yang berperan dalam proses rekruitmen.
Hal tersebut merupakan upaya manajerial untuk memperluas kendali mereka atas
tenaga kerjaa karena pekerja berita kontemporer kini semakin ditandai oleh
"fleksibilitas fungsional" yang tinggi, dan membutuhkan profesional dengan banyak keahlian yang tujuannya agar mampu melakukan banyak tugas dari keseluruhan organisasi.
a.
Jurnalis
multimedia
Jurnalisme media bertugas menciptakan konten untuk surat kabar,
majalah, televisi, radio, situs web, blog, dan media sosial, dengan kemampuan
multitasking dalam ruang redaksi yang konvergen. Namun jurnalisme online
professional belum berkembang dengan baik dalam melakukan tugas tersebut.
Karenanya banyak media mengubah struktur organisasi ruang redaksi mereka
sehingga para jurnalis dapat memproduksi konten di berbagai platform dan
menimbulkan kesadaran pentingnya belajar keterampilan teknologi untuk jurnalis.
Peleberan pekerjaan
Jurnalisme
multimedia bersifat teknis, dan tetap mengutamakan penguasaan keterampilan
dasar jurnalistik seperti pengumpulan berita, seleksi, dan pengisahan cerita
serta memahami kapasitasnya dengan kreatifitas
untuk menangani konsekuensi dari permintaan manajemen ruang berita fleksibilitas
fungsional.
Seiring dengan berkembangnya teknologi muncul pula banyak kegiatan
baru dalam profesi jurnalisme seperti manajer komunikasi, moderator obrolan
dalam media sosial dll. Sebagian besar perusahaan media dalam hal ini tidak
berupaya untuk merekrut staf baru untuk mengisi fungsi-fungsi baru tersebut
namun perusahaan berusaha mengalihkan pekerjaan secara internal atau dengan
memperluas deskripsi pekerjaan dari jurnalis online
b.
Beban
kerja meningkat
Teknologi selalu digunakan oleh manajemen sebagai alat untuk
meningkatkan produktivitas dan efisiensi biaya di ruang redaksi, yang
menunjukkan kembali bahwa perubahan dalam tenaga kerja jurnalistik tidak begitu
banyak didorong oleh kebutuhan teknologi, namun justru memenuhi kebutuhan
kapitalis untuk mengurangi biaya tenaga kerja keseluruhan. Dengan kata lain, bukan
teknologi semata, tetapi obsesi manajemen terkait dengan pengurangan biaya dan
maksimalisasi produktivitas yang mengarah pada peningkatan beban kerja
Kekurangan
waktu
1.
Kekurangan
waktu
Ketika waktu memaksa jurnalis untuk membuat memilih salah satu atau
pilihan antara berinteraksi dengan pengguna dan pekerjaan berita tradisional,
mereka lebih cenderung berpegang pada apa yang mereka yakini sebelumnya yaitu, mengumpulkan informasi, memilih berita, dan bercerita. Efisiensi
waktu tersebut menjadi salah satu faktor penghambat untuk adopsi interaktivitas
dan multimedia dalam produksi berita.
2.
Rasa
kedekekatan
Rasa kecepatan, yang menyiratkan "tenggat waktu konstan,"
adalah inti dari jurnalisme online. Wartawan online sendiri cenderung melihat
kebutuhan akan kecepatan dan jadwal yang berdekatan sebagai hasil dari inovasi teknologi.
3. Pekerjaan
meja meningkat
Banyak jurnalis
yang bekerja di depan komputer mereka, karena peran teknologi digital untuk penelitian
dan pengumpulan berita telah berkembang digitalisasi tenaga kerja jurnalistik
tampaknya memicu “referensi-diri perushaan” dalam jurnalisme karena hanya informasi yang
telah dipublikasikan kemudian diadopsi oleh media lain
Jurnalisme online di Indonesia
Jurnalisme online di Indonesia
Hasil survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa
Internet Indonesia ( APJII) menyatakan jumlah pengguna internet di Indonesia
mencapai 143,26 juta jiwa. Hal ini karena kemampuan menggabungkan multimedia
digital, interaksi online, dan tata rupa fiturnya. Pengintegrasian tiga fitur
komunikasi yang unik: kemampuan-kemampuan multimedia berdasarkan platform
digital, kualitas interaktif komunikasi online, dan fitur-fitur yang ditatanya.
Internet sebagai dasar jurnalisme online terus memodifikasi dunia
jurnalistik ke arah yang lebih produktif, dan menjerat jurnalisme untuk
tujuan-tujuan tertentu. Kolaborasi antara teknologi dengan internet menciptakan
sebuah dunia baru jurnalistik dimana para profesi jurnalis dituntut untuk
mengirim berita secara cepat, karena kecepatan
dalam media online menjadi hal yang utama
bahkan terkadang mengesampingkan keabsahan, serta disajikan tidak etis
dan tidak relevan.
Pemanfaatan
teknologi pada dunia jurnalistik dengan prinsip konvergensi yang menampilkan
wajah baru di Indonesia dengan platform-platform digitalnya, seperi Tribun
News, Kompas.com, Detik.com dllnya. Berita-berita tersebut menyajikan informasi
dalam bentuk beragam seperti teks, video, foto, audio. Mereka memunjukkan ruang
redaksi pengaplikasian konsep konvergensi
melalui beragam multimedia yang mengintegrasikan seluruh konten berita dengan
berbagai format.
Hal tersebut mengubah beberapa kegiatan pekerja media. Perubahan
para wartawan multimedia pada media online yang dapat memproduksi satu konten
berita untuk beragam format. Wartawan ditunutn untuk cakap dan terampil
dalam mengoptimalka kemampuan teknologi
komunikasi untuk menghasilkan video, tulisan, dan foto dalam sekali waktu
liputan dan reportase.
Banyak pekerja yang mengalami kesulitan dalam penyesuaian ketika
berkonvergensi ke media online, yaitu
karena mereka harus selalu standby serta pendek nya berita dengan
infromasi yang minim. Hasil penelitian yang dilakukan Aliansi Jurnalis
Independen (AJI) menyimpulkan bahwa
banyak pengusaha media yang menjadikan upah minimum didaerahnya sebagai
patoka gaji. Dihadapkan pada berbagai tuntutan dan tekanan pekerjaan,
para pekerja menyatakan
bahwa kesejahteraan mereka
masih terabaikan. upah rendah
jurnalis dipengaruhi oleh kondisi ekonomi media.
Media online bisa berdiri dengan modal kecil dan kerap harus berjuang untuk bertahan. Kesejahteraan jurnalis penting untuk mewujudkan kebebasan
pers dan profesionalisme serta menumbuhkan iklim pers yang
sehat dan demokratis.
Banyak media online yang tidak melakukan jurnalisme yang ketat, bahkan
kerap kali ikut menyebarkan informasi hoax. Salah satunya yang dijalankan oleh
postmetro.com yang mengakui bahwa mereka dapat meproduksi 80 konten perhari
dari hasil salinan dari media mainstream yang kemudian diberikan sedikit
modifikasi pada bagian judul sehingga
lebih provokatif, tendensius dan lucu
Teknologi
dalam jurnalistik dari sisi kapitalisme baru melihat persepektif bisnis sebagai strategi penghematan biaya dan
menghasilkan keuntungan yang lebih tinggi para tenaga
kerja media didorong untuk mahir dalam menghasilkan konten berita multimedia
dengan kemampuan dasar dan keterampilan teknis. Dengan tujuan menaikkan
pendapatan saat konten berita dapat didistribusikan secara efisien melalui
berbagai platform. Melalui perubahan yang ada wartawan tidak boleh mengabaikan
kepentingan publik dengan terus memberikan berita yang relevan, terverifikasi dan akurasi tidak boleh mengarah kepada penyesatan opini public.
Dari uraian masalah diatas, dunia jurnalistik tidak mudah sedang mengalam masa transisi yang didak mudah ditambah lagi dengan UU Pers No. 40 thn 1999 belum mengatur soal media komunitas dan model baru
praktik pemberitaan media online serta distribusi berita dalam
ranah media sosial.
Maka dalam jurnlisme online kode etik dan nilai-nilai jurnalistik perlu
ditinjau kembali dan diselaraskan dengan UU diatas tentang pers dan kode etik
jurnalistik
Sumber
Adzkiya, Agnia. 2015. Praktik
Multimedia dalam Jurnalisme Online di Indonesia (Kajian praktik wartawan
multimedia di cnnindonesia.com, rappler.com, dan tribunnews.com). JakartaJurnal
komunikasi, ISSN 1907-8X Vol 10 nomor 1.
Maharani, Tsarina.2017. Pemahaman
Profesi Jurnalis Media Online Studi Fenomenologi Interpretatif. Banten.
Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 9, No.2

Komentar
Posting Komentar