OPINI
Memanusiakan
Robot Atau Merobotkan Manusia ?
![]() |
| Robot akan menggantikan posisi pekerja (Foto: Flick) okezone.com |
Pernahkah gak
sih berfikir tentang gimana proses memproduksi berita pada produk
jurnalistik ? sadar gak sih kalo sekarang semua serba cepat dan mudah ? dan biasanya yang cepat itu yang paling dicari
Kurun waktu
40 tahun terakhir ini tuh seluruh aspek kehidupan banyak banget
yang berubah loh, dengan adanya peningkatan kebutuhan konsumen mendorong
internet dan komputasi sebagai tantangan yang diajukan masyarakat modern, salah
satunya yaitu pada aspek jurnalistik. Masyarakat
kini menuntut semua pernyataan dapat dijawab
atau dikomunikasikan dengan mudah dan cepat.
Hal tersebut
menjadi pemicu perluasan riset untuk mengefisiensi produk jurnalistik, salah
satunya dengan melakukan riset terhadap penyusunan algoritma komputer dengan
metode Artificial Intelligence (AI) menggunakan algoritma komputer, melalui
pendekatan Machine Learning (ML) yang mengajarkan komputer agar dapat
secara otomatis mencari solusi dalam suatu masalah tertentu. Hal tersebut
dilakukan dengan mempelajari pola-pola tertentu dari sejumlah data yang ada
untuk dapat memahami berbagai macam pola dan mampu memecahkan masalah dengan
solusi tertentu dari pengenalan pola-pola tersebut. Dalam menentukan pola dan
memecahkan masalah itulah diperlukan data yang banyak (dataset). Data-data ini
akan dipelajari dengan perhitungan algoritma dan dikelompokkan sesuai dengan
kategori masing-masing.
Para ilmuwan
komputer terus memadukan riset AI dengan tantangan di era modern ini. Karena peradaban
berikutnya AI dengan metode ML diprediksi akan
benar-benar menggantikan pendekatan tradisional yang kini berjalan. Kemudian
data yang didapat di Statista pada tahun 2016 terdapat 53% wartawan yang
memanfaatkan Twitter sebagai salah satu ruang untuk mendapatkan informasi pada
berita yang mereka tulis. Hal tersebut juga dirasa lebih efisien jika dilakukan
oleh robot atau algoritma komputer dengan
mengekstraksi informasi-informasi yang
terapat pada media sosial dan dapat menghasilkan sebuah berita.
Namun kemudian hal tersebut memunculkan pernyataan, apakah kemajuan teknologi akan menggeser atau bahkan
merubah dunia jurnalistik ?
Robot jurnalis melalui artificial intelligence telah banyak
merubah cara berkomunikasi dan memecahkan masalah. Misalnya saja Associated
Press (AP) yang dapat menghasilkan 3.500 tulisan tenang analisis keungan
perusahaan di AS dan setiap tahunnya dapat memproduksi 10.000 berita pertandingan
baseball. Artficial intelligence
hanya mencatat statistic dan kemudian menarasikannya, AI tidak dapat
membuat sebuah berita yang membutuhkan aspek kognitif. Karenanya AI dituntut untuk dapat
dikolaborasikan dengan para jurnalis agar sebuah narasi dan berita dapat sesuai
dengan tuntutan masyarakat. Jurnalisme robot terus memantau secara berkala pada
interaksi emosional konsumen, pemilihan informasi, konten dan profil yang
banyak dicari. Hal tersebut terus dikembangkan pada jurnalisme robot dan tidak
menutup kemungkinan robot jurnalisme dapat membuat berita melalui aspek
kognitif pula .
Lalu bagaimana para journalism professional dengan kode etik
yang dibawanya ? apakah jurnalisme robot dengan artificial intelligence akan mengaburkan hal tersebut ?
banyak pernyataan "kita manusia bukan robot" yang mengimplikasikan bahwa manusia selalu berbeda dengan robot begitupun sebaliknya. Perbedaan tersebut memiliki tafsiran bahwa manusia memiliki akal, dan rasa yang membedakan dengan robot yang berfikir berdasarkan pola yang diciptakan tanpa memiliki rasa lelah.
Jurnalisme robot dengan kemampuan menganilisis maupun mengolah data secara cepat, dengan sedikit kesalahan, dan dapat digunakan
meproduksi berita 24 jam. hal tersebut
dikhawatirkan dapat menggeser profesi jurnalisme manusia sebab teknologi
sekarang tidak hanya dilukiskan sebagai medium pesan namun juga sebagai
produsen dari pesan itu sendiri.
Menghilangkan atau bahkan menampik perkembangan teknologi pada
jurnalistik juga dirasa tidak tepat, karena dunia jurnalistik diikuti teknologi
dapat mewujudkan public sphere yang lebih luas dan mewujudkan jurnalisme
sebagai pilar keempat demokrasi. Maka dari itu teknologi
jurnalisme robot harus dikolaborasikan
dengan jurnlisme manusia melalui keseimbangan system computing
dengan validitas informasi. Maka dari itu penerapan etika harus menyentuh etis
yang berhubungan dengan komputer dan informasi di internet melalui filtrasi redaksi
untuk memilah informas kemudian dipublikasikan sehingga berita yang dihasilkan
sesuai dengan prinsip-prinsip jurnalisme.
Di era teknologi dengan
internet ini yang berubah gak cuma
dari proses penyampaian berita yaa.. tapi juga proses produksinya
Meskipun jurnalisme robot dengan AI dapat mengolah data dan mengekstrasi
informasi dari big data dengan
cepat namun tidak dapat menggantikan jurnalisme manusia dengan karakter gaya bahasa
dan proses wawancara hingga investigasi
yang merupakan sebuah konfrontasi kesadaran yang meliputi moral, etik,
dan kemanusiaan. Artificial intelligence dengan algoritma melalui metode ML sebaiknya
diarahkan kepada efisiensi system produk berita dan tidak mengesampingkan
jurnalisme professional pada jurnalisme manusia.
sekian...
Mari tetap semangat dan bijaksana dalam merangkul teknologi, untuk peradaban yang lebih tinggi
semoga bermanfaatt yaa !!!
Mari tetap semangat dan bijaksana dalam merangkul teknologi, untuk peradaban yang lebih tinggi
semoga bermanfaatt yaa !!!
Daftar Pustaka
Jurnal
Amran, Srioktika. 2018. Jurnalisme Robot dalam Media Daring Beritagar.id.Depok. IPTEK-KOM, Vol. 20 No. 2. https://jurnal.kominfo.go.id/index.php/iptekkom/article/download/169-182/pdf diakses paada 18/05/2019
Haekal, Husein.2017. Penerapan Jurnalisme Robot di Beritagar.Id : Studi di Beritagar.Id Jalan Jatibaru Nomor 28 Jakarta Pusat.Bandung. Digital Library UIN Sunan Gunung Djati. http://digilib.uinsgd.ac.id/17546/ dikses pada 19/05/2019
Websites
Ahmad Zaenudin, “Pekerjaan Para Penulis dan Wartawan Bisa Digantikan
Robot”, Tirto.id, 18 Februari 2017, dalam https://tirto.id/pekerjaan-para-penulis-dan-wartawan-bisa-digantikan-robot-cjiQ. Diakses pada pada 18/05/2019
Bre Redana, “Inikah Senjakala Kami…”, Kompas.com, 28
Desember 2015, dalam http://print.kompas.com/baca/2015/12/27/Inikah-Senjakala-Kami,
diakses pada 18/05/2019
Hiroki Sugita, “Journalism Can
Survive Artificial Intelligence,” japantimes.co.jp, 2 Juli 2016, dalam
https://www.japantimes.co.jp/opinion/2016/07/02/commentary/japan-commentary/journalism-cansurvive-artificial-intelligence/,
diakses pada 18/05/2019


Komentar
Posting Komentar